Selasa, 27 November 2012

0 Akibat Alergi Terhadap Teknologi Seorang Wanita Rela Mengurung Diri Sampa 18 Jam


Jakarta, Banyak orang tergila-gila pada teknologi yang memberi kemudahan melakukan sesuatu seperti berkomunikasi atau berselancar di internet. Tak heran, mereka berlomba-lomba untuk memiliki gadget terbaru.

Tapi berbeda dengan wanita asal Inggris ini karena ia rela menghabiskan waktu 18 jam sehari terkurung di dalam sebuah kandang demi menghindari berbagai teknologi yang ada di sekitarnya.

Velma Lyrae (51) mengaku tak bisa menggunakan ponsel, terpapar WiFi atau bahkan memakai pengering rambut. Ia sendiri percaya kondisi ini mulai muncul sejak ditemukannya ponsel 3G. Untuk menghabiskan waktunya, Velma pun membaca buku, membuat karya seni dan menulis berbagai surat di dalam sebuah 'kandang' di apartemennya di Blackheath, London. Kandang itu dibuatnya sendiri dari barang-barang bekas seharga 300 poundsterling.

Usut punya usut Velma menderita electromagnetic hypersensitivity syndrome (EHS) yang berarti ia tak tahan bila dekat-dekat dengan medan elektromagnetik.

Saat remaja Velma sudah sering mengalami shock ketika menyentuh stop kontak di kamar mandinya. Awalnya gejala-gejala sindromnya sama sekali tak terlihat tapi lama-kelamaan semakin memburuk.

Kini Velma pun tak lagi bisa bekerja, apalagi dengan nyeri kepala dan saraf yang menyiksa, mudah lupa, tinnitus, jantung yang berdebar-debar (heart palpitations), vertigo dan nyeri sendi yang muncul ketika ia berada di dekat teknologi.

Dulunya Velma bekerja sebagai seorang sekretaris untuk sejumlah firma di London pada tahun 1980-an, namun karena gejala EMS-nya terus muncul maka ia terpaksa keluar dari pekerjaannya.

Menurutnya, serat logam yang ada di jejaring kandangnya dapat memantulkan gelombang elektromagnetik dan menghentikan gejala-gejala EMS-nya.

"Saya tak bisa berbuat sesuatu seperti halnya orang normal tanpa dibarengi munculnya gejala-gejala yang mengganggu itu. Jadi saya harus melakukan segala hal di dalam kandang, entah itu makan, tidur, membaca ataupun menulis," tutur Velma seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (23/11/2012).

"Kalaupun keluar rumah, saya harus mengenakan syal pelindung di kepala untuk melindungi diri saya dari sinyal radiasi. Ini membuat hidup saya seperti di neraka," tambahnya.

Velma mengaku tak punya pekerjaan dan kehidupan sosial membuatnya sedih. Padahal ia juga suka pergi ke festival musik dan menonton konser. Tapi karena semua penonton pasti membawa ponsel, Velma pun tak bisa memenuhi keinginannya itu lagi.

Electrical Sensitivity atau biasa disebut juga dengan hipersensitivitas elektromagnetik merupakan kondisi kontroversial yang kebanyakan ditemukan di Spanyol dan Swedia, bukannya di Inggris. Dr. Erica Mallery-Blythe dari ElectroSensitivity UK pun mengungkapkan bahwa gejala-gejala EHS bisa sangat beragam, awalnya mungkin terlihat halus dan dikira sebagai gejala gangguan kesehatan lainnya.

"Anak-anak dan orang dewasa zaman sekarang terpapar oleh medan elektromagnetik dengan kadar yang sangat tinggi. Jadi jangan heran jika jumlah penderita EHS dan gangguan kesehatan lain yang ada kaitannya dengan paparan medan elektromagnetik juga akan terus meningkat," katanya.

Sepakat dengan Dr. Mallery-Blythe, Dr. George Carlo dari Washington menambahkan, "Salah satu tragedi lainnya adalah penderita menggunakan sejumlah pendekatan seperti menggunakan kandang, tirai, kalung untuk melindungi diri mereka tapi itu bukanlah solusi jangka panjang. Mereka hanyalah mekanisme keberlangsungan hidup (survival)."

Sayangnya pada tahun 2005, Health Protection Agency Inggris mengungkapkan bahwa tak ada bukti ilmiah yang mengaitkan antara kondisi kesehatan dengan peralatan elektronik meski dikatakan penderitanya mengalami berbagai gejala yang tidak menyenangkan. Lagipula review lembaga ini tidak menemukan adanya dampak gelombang elektromagnetik dari ponsel.

Selain itu pada tahun 2007 sebuah studi menunjukkan bahwa sensitivitas terhadap peralatan elektronik (electrosensivity) mungkin hanyalah sugesti yang ada dalam pikiran manusia saja.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives ini penderita seringkali mengaku mengalami gejala-gejala tertentu ketika berada di dekat ponsel dan mengklaim ponsel itu tengah dinyalakan. Padahal ketika eksperimennya diulangi dan partisipan tak mengetahui apakah ponselnya tengah dinyalakan atau tidak, nyatanya tak ditemukan hubungan antara gejala EHS dengan sinyal ponsel.
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

0 Comments

Bagaimana Pendapat Anda ?

Unduh Adobe Flash player