Sabtu, 27 Oktober 2012

0 Sejarah Singkat Tentang Biografi Tan Malaka


Asal Usul dan Pendidikannya

Tan Malaka berasal dari keluarga ternama di daerahnya. Ia lahir tanggal 2 Juni 1896 di Nagari Pandang Gadang, Sumatera Barat. Ayahnya seorang mantri cacar. Keluarga ayahnya memberinya nama Ibrahim (Sultan Sibrahim), dan dari pihak ibu menurut adat dilekatkan padanya gelar warisan Datuk Tan Malaka.

Sehingga nama lengkapnya adalah Sultan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Setelah tamat dari Sekolah Rakyat, Tan Malaka melanjutkan pendidikannya selama enam tahun di Sekolah Guru Kweekschool yang terkenal dengan nama Sekolah Raja. Salah seorang gurunya di Sekolah Raja, G.H. Horensma menganjurkan agar Tan Malaka melanjutkan pendidikannya di Eropa.

Atas jaminan Dominiscus, Kontalir di Suliki, guru Belanda tersebut berhasil membawa Tan Malaka ke Amsterdam pada tahun 1913. Tan Malaka dijadikan anak angkat Horensma.
Tan Malaka kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru di Harrlem. Pada bulan Juli 1915, ia lulus dari ujian di sekolahnya. Namun dua kali mengikuti ujian akta guru kepala, ia tak pernah berhasil lulus. Akhirnya tahun 1919 Tan Malaka kembali ke Indonesia sebagai guru di perkebunan Sanemba, Deli.

Masa Pergerakan Nasional

Perjuangan politik Tan Malaka pada dasarnya perjuangan melawan sistem, bukan memusuhi masyarakat yang hidup di bawah sistem itu.
Pada tahun 1921 Tan Malaka meninggalkan Medan menuju ke Pulau Jawa untuk melanjutkan cita-citanya, yakni mengajar bangsanya mengerti harga diri, sanggup berbuat dan berani berjuang. Pertemuannya dengan tokoh Komunis kenamaan, Semaun, membawanya ke pusat PKI di Semarang, di mana dia diberi tugas memimpin sebuah sekolah yang diselenggarakan oleh partai itu.

Sewaktu ia terlibat dalam pemogokan buruh di permulaan tahun 1922, dia ditangkap oleh pemerintah kolonial dan dibuang ke luar negeri. Dalam pembuangan tersebut, Tan Malaka memilih Belanda sebagai tempat memperjuangkan Indonesia dari jauh.
Kedatangannya di negeri Belanda merubah pemikiran di kalangan mahasiswa Indonesia di sana. Indische Vereeniging yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia, pada tahun 1923 diubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuan Indonesia merdeka dan majalah yang tadinya bernama “Hindia
Belanda” diganti menjadi “Indonesia Merdeka”, kemungkinan ini sebagian pengaruh Tan Malaka.
Tanggal 5 Nopember 1922 Tan Malaka ditunjuk menjadi wakil PKI pada Kongres Komunis Internasional (Komintern) di Baku. Dalam kongres ini Tan Malaka menimbulkan kegegeran ketika ia menganjurkan agar golongan komunis di negeri-negeri jajahan bekerja sama dengan golongan agama (Islam), golongan petani dan borjuis kecil dalam perjuangan menentang kapitalisme dan kolonialisme. Menurutnya, di negeri-negeri jajahan hampir tidak terdapat buruh industri yang proletar, sebab di negeri jajahan hampir tidak ada industri.

Perkembangan PKI di Indonesia sangat mengecewakan Tan Malaka, sehingga ia keluar dari PKI dan Komintern dengan beberapa kawannya, Jamaluddin Tamin dan Subakat. Ia mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada bulan Juli 1927. Partai ini tidak bisa berkembang karena dikejar-kejar terus oleh polisi Belanda, sedangkan Tan Malaka sendiri berhasil lolos ke Cina dan menetap di Amoy. Dari Amoy ia pindah ke Singapura dan menjadi guru bahasa Inggris selama lima tahun (1937-1942). Karena pengembaraannya yang tidak pernah tertangkap oleh polisi Belanda, maka ia dijuluki “Pacar Merah Indonesia”.6)

Pandangan-pandangan Politiknya

Dalam melihat Revolusi Indonesia, Tan Malaka memiliki kesamaan dengan tokoh-tokoh perjuangan yang lain, seperti Soekarno, Cokroaminoto, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir. Namun demikian Tan Malaka mempunyai pandangan yang lebih luas dalam melihat revolusi Indonesia, yaitu tidak hanya berhenti pada pengusiran dan penghapusan kolonialisme dan imperialisme di bumi Indonesia, tetapi yang utama juga adalah menciptakan revolusi sikap mental bangsa untuk menopang ke arah kemajuan bangsa.7)
Tan Malaka melihat Revolusi Indonesia mempunyai dua tujuan utama, yaitu mengusir imperialisme Barat dan menentang sisa-sisa feodalisme. Kalau bangsa Indonesia berhasil menjalankan revolusi tersebut, maka akan tercapai masyarakat Indonesia yang merdeka dalam politik, ekonomi dan sosial budaya.

Tan Malaka juga menolak cara parlementer sebagai upaya mencapai kemerdekaan, karena menurutnya mempercayai jalan berparlementer dengan jalan merebut kursi dalam Dewan Rakyat serta meminta supaya diberikan kekuasaan politik, merupakan percobaan untung-untungan yang menyesatkan. Usaha ini hanya dapat dilakukan di dalam negeri jajahan yang mempunyai alat borjuis bumi putera dan menurutnya kerja yang jujur dengan penjajah Belanda di luar atau di dalam Dewan Rakyat merupakan pengkhianatan terhadap rakyat Indonesia.
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

0 Comments

Bagaimana Pendapat Anda ?

Unduh Adobe Flash player