Jumat, 03 Agustus 2012

0 ARTI SALIB


Jika Kekristenan adalah Kristus, maka salib-Nya adalah kunci untuk mengerti tentang Dia. Ruang yang diberikan untuk mencatat kejadian selama satu minggu terakhir sebelum Penyalib an menjadi bukti betapa penting para murid melihat arti kematian-Nya. Hal itu menghabiskan 30 persen Injil Matius, 37 persen Injil Markus, 25 persen Injil Lukas, dan 41 persen Injil Yohanes.[1]

P. T. Forsyth, seorang theolog Inggris, berkata, "Bagi kita Kristus adalah salib-Nya, Keseluruhan Kristus baik di sorga atau di bumi terletak di dalam apa yang Dia kerjakan di atas salib .... Anda belum mengerti tentang Kristus sampai Anda mengerti arti salib-Nya." [2] Theolog besar pertama gereja, Rasul Paulus, pasti setuju dengan Forsyth. Lihat bagaimana dia menggambarkan hidup dan pelayanannya: "Kami memberitakan Kristus yang disalibkan" (1 Korintus 1:23); "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan" (1 Korintus 2:2); "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia" (Galatia 6:14).

Pembahasan kita mengenai Salib ada di bawah tema besar, "Yesus Adalah Jalan". Hal ini dikarenakan pada saat Yesus berkata bahwa Dia adalah jalan dalam Yohanes 14:6, maksud-Nya Dia akan menjadi jalan melalui kematian, seperti ditunjukkan oleh konteks dari ayat ini (Yohanes 13:33-14:5). Apa yang dicapai oleh Salib Kristus begi tu I uas dan dalam sehingga banyak penafsiran akan hal ini bermunculan di sepanjang sejarah gereja. [3] Di sini kita akan menyajikan tiga aliran utama dari beragam penafsiran yang ada: pendekatan objektif, pendekatan subjektif, dan pendekatan dramatis. Ketiga pendekatan ini tidak saling eksklusif. Masing-masing menjelaskan satu faset dari makna peristiwa hebat ini, yang kedalamannya tidak akan pernah bisa kita ketahui sepenuhnya.


-----------

[1] Dihitung dari bagan yang dibuat dalam bukunya W. Griffith Thomas, Christianity Is Christ (1948; cetak ulang, New Canaan, Conn.: Keats Publishing, 1981),34.

[2] P. T. Forsyth, The Cruciality of the Cross (London: Hodder and Stoughton, 1909), 44-45, dikutip dalam buku John Stott, The Cross of Christ (Leicester dan Downers Grove, Ill.: Inter Varsity Press, 1986),43.

[3] Untuk gambaran menyeluruh dari beragam pandangan yang muncul sepanjang sejarah, lihat buku H. D. McDonald, The Atonement of the Death of Christ (Grand Rapids, Mich.: Baker, 1985).
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

0 Comments

Bagaimana Pendapat Anda ?

Unduh Adobe Flash player